KURSI, TAMAN, KOTA MELAHIRKAN KISAH YANG BASAH (Antologi Puisi: Merah Marah Manis)

Sumber foto arsip pribadi


​TAMAN DAN KURSI
(puisi)

Ada dua kursi yang duduk 
di jantung suatu taman 
saling bersitatap melingkar
meja bundar.

Ada satu taman yang lena 
di suatu kota berceruk rendah 
muara dari seluruh kota.

Kursi yang pertama: suatu hari 
diduduki s’orang gadis yang telah 
menyingkap tabir
warna-warni pelangi,
dan kursi kedua yang memandang 
lurus itu, suatu hari pernah di duduki 
s’orang pemuda yang tertenung 
mata gadis berpelangi,
lengkap dengan warna 
merah muda pada pipi
yang runtuh dari kelopak langi itu.

Dua kursi pada taman
Satu taman pada suatu kota
Sebuah kota pada bumi
Melahirkan kisah sengit perempuan
dan laki-laki.

Lalu hilang di lalu-lalang
hingga terusik dua tangis bayi
yang siap menciptakan kisah lagi,
bumi yang indah tidak pernah sempat 
merayakan sepi.
_
6 Syaban 1438 H.

Iklan

SEPASANG JALAN MEMBELAH KOTA (Puisi)

sepasang jalan membelah diri menjadi dua 
menciptakan arah pulang dan pergi

sepasang jalan itu mengerti aku, 
kau dan semua manusia di kota ini

lihat, ia memisahkan dirinya 
sekali lagi, menjadi dua tepatnya:
kanan adalah sisi yang mempersingkat waktu,
sedangkan kiri adalah sisi sebaliknya

aku di sisi kiri setiap kali meninggalkanmu,
agar keterpisahan tercipta lebih lama

dan setiap kali kembali kepadamu, aku pakai sisi
kanan, ia mempersingkat jarak dan waktu

sepasang jalan membelah diri menjadi dua;
lihat, mereka merayakan rindunya di sisa usia
*201217

POHON SINGKONG LEBIH FILOSOFIS DARI KOPI

Dee Lestari mungkin akan tertawa setelah membaca tulisan ini, ketika ia mendapati bahwa pohon singkong lebih filosofis daripada kopi, dan sayangnya Filosofi Kopi sudah punya dua sekuel yang mana mustahil dihapus sebab cerita tersebut telah menjadi milik ingatan masyarakat Indonesia.

Pohon singkong sebagaimana diketahui adalah tanaman yang biasa-biasa saja, pun jauh dari kesan indah dan menawan, tapi siapa sangka pohon ini memiliki karakter daya juang yang amat persis dengan bangsa Indonesia selama periode penjajahan Belanda-Jepang yang kurang lebihnya menelan waktu 200 untuk masa penaklukan dan 150 untuk masa penjajahan.

Kopi tentu secara filosofi-Esetetik lebih unggul dibandingkan pohon singkong tetapi, pohon singkong lebih menonjol secara eksotis di bagian filosogis aksiologis. Bagaimana tidak? Bicara perihal kegunaan (aksiologis) karakteristik pohon singkong sangat perlu dijadikan sebagai guru, apalagi ditengah-tengah kekacauan sosio-politik sampai ekonomi yang mana seakan-akan permasalahan ini tidak ada mulanya dan belum akan ada pertanda akan berakhir.

Pohon singkong mengajarkan kita hidup “survive” berjuang. Di tanah kering; pohon singkong hidup. Di tanah tandus; pohon singkong hidup. Dilempar sembarang tempat juga bakal hidup. Tidak disiram, juga bakal hidup. Dan, bahkan tidak dirawatpun bakal hidup. Itulah hebatnya pohon singkong. 

Bangsa Indonesia rasanya perlu menjadi pohon singkong lagi di tengah-tengah warisan keterpurukan ekonomi sampai sosio-politik. Memang dulu kita menjadi singkong untuk merdeka dari cengkraman penjajahan, tapi kali ini bangsa Indonesia perlu menjadi pohon singkong untuk memperbaiki persoalan ekonimi sampai sosio-politik.

Dengan menjadi bangsa yang survive seperti pohon singkong sekaranglah waktu yang tepat. Berdikari pangan, kemiliteran, politik tanpa (intervensi) campur tangan berlebih dari pihak asing, teknologi mandiri. Maka bangsa ini jadi seperti pohon singkong yang tahan banting, dan suatu saat nanti bangsa ini barulah bisa menikmati dengan nikmat makan singkong sambil minum kopi.

*201217

BULAN NOVEMBER MEMANG BEGITU (Puisi: 60)

Sejak semula ia telah memaklumi
bulan November yang selalu 
mengundang musim hujan di angkasa.

Sejak semula ia telah memaafkan 
bulan November  yang selalu tanpa izin 
sekenannya menurunkan hujan.

Sejak semula ia telah menerima 
bulan November yang selalu 
mencampur adukan kenangan masa kecilnya 
dengan air hujan dan lumpur.

Sejak Semula  bulan November 
memang begitu, ucapnya kepada 
jendela berlukis awan murung.
_
3 November 2017

ANAK KECIL LUCU DI DALAM MATAMU (Puisi: 10)

1.
Ada anak kecil telanjang di matamu
berlari tanpa alas kaki, menghentak bumi 
meloncat tinggi dan yakin akan meraih angkasa.
Sepenuhnya ia sadar ada gravitasi bumi
yang akan menariknya ke bumi lagi dan lagi.

2. 
Ia jadikan permukaan matamu sebagai jendela,
dan kepalamu adalah rumahnya. Dari dalam sana
ia memandang mataku, lalu membuka jendela itu.
Ia mengenaliku seperti ia mengenalimu
dan mengenali dirinya sendiri. Dan aku
mengenalinya seperti aku mengenalmu
juga mengenal diriku sendiri.

3.
Tangan mungilnya meraih bulu mataku,
lalu mempertautkannya dengan bulu matamu.
Sedekat ini, ia ingin mataku dan kepalaku
jadi jendela dan rumahnya juga.

4.
Ada anak kecil telanjang di mataku, 
berlari tanpa alas kaki
datang dari dalam dirimu. 
Aku mengenalnya seperti aku mengenalmu.
_
6 mhr 1439 H.

RESEP MEMBUAT SENJA DI MUSIM DINGIN (Puisi: 12)

@/ Jika kau seorang pecinta senja terjebak musim dingin yang selalu berhasil menyembunyikan senja di balik awan mendung sepanjang september-april.

!/ Kau tak perlu keluar rumah untuk mencarinya. Resepnya hanya sebuah kamar agar kau merasa nyaman, beberapa buah buku untuk teman menunggu, kamera untuk mengabadikan peristiwa, segelas minuman yang menimbulkan senyuman, dan tiga atau lima teh celup dari dapur ibumu. 

#/ Lalu gantungkan teh celup di jendela luar, tunggu sampai hujan menyeduhnya sehingga bening kaca jendelamu berubah warna senja yang jingga. Itulah senja.

&/ Dan jika kau masih perlu ornamen matahari yang lucu, kau hanya perlu mendekat ke arah jendela lalu berkacalah, perhatikan baik-baik wajahmu di sana: anggap matamu yang binar itu mataharinya. Telah lengkap senjamu.

*/ Itulah resep membuat senja di musim dingin.

_

6 mhr 1439

PENGANGGURAN BUKAN ANGGUR (Puisi: 8)

​setelah lelah berpindah-pindah dari
lowongan satu ke lowongan yang lain
di suatu kota sibuk penuh keacuhan
dan keegoisan diri lebih diutamakan
akhirnya ia berserah lalu menanggap
dirinya bergelar penganggurnan
pada saat itu juga ia curiga dan sekaligus
cemburu kepada buah anggur yang mana
apabila anggur didiamkan pada suatu
tong besar dengan campuran beberapa
cairan kimia maka itu akan menjadi minuman
anggur yang nikmat ketika diminum pada
suatu sesi musim dingin yang mana dahulu
ketika ia kecil suka sekali meminumnya
dengan campuran air putih di depan 
tungku api sedangkan manusia bukanlah 
buah anggur yang jika semakin lama
menganggur ia tak akan menjadi manusia 
yang menikmatkan melainkan memberi
malapetaka bagi orang sekitarnya 
dan sial usahanya selama ini tidak 
membuahkan hasil apapun justru sisa uang 
yang ia miliki telah habis menjadi sebuah
amplop berisi surat lamaran dan beberapa
lembar foto tiga kali empat dan kalau sudah
pada titik hidup semenyebalkan itu ia suka
membuka dompetnya walaupun sudah tidak 
ada isinya tetapi setidaknya ia dapat 
mengambil selembar foto yang terselip 
di bagian paling dalam lalu berkata: setidaknya
aku masih punya kamu.
_
4 mhr 1439

ALEGORI (Puisi: 1)

aku pernah mengusikmu ketika awan menyiapkan formasi hujan. lalu berkata: perhatikan, Tuhan sedang membuat warna dasar untuk sebuah lukisan. Tetapi yang kaulihat hanya kanvas putih.

aku pernah jadi dekapmu di halte, ketika guntur adalah goong pertujukan dimulai. lalu berkata: aku di sampingmu; aku ajal resahmu. tetapi kau masih takut membuka matamu.

aku pernah mencabut earphone di telingamu ketika rintih-rintih hujan mulai turun. lalu berkata: dengarkan, Tuhan sedang bernyanyi. tetapi yang kautangkap hanya basahnya.

aku pernah menarikmu kedalam mesra hujan yang dingin dan basah. lalu berkata sambil memelukmu: buka kacamatamu langit cinta melihat matamu yang telanjang, tancapkan ujung earphone ke tanah sebab bumi suka berbicara tanpa hasta.

kemudian kau mencintainya; aku mencintaimu.

_

1 mhr 1439