KURSI, TAMAN, KOTA MELAHIRKAN KISAH YANG BASAH (Antologi Puisi: Merah Marah Manis)

Sumber foto arsip pribadi


​TAMAN DAN KURSI
(puisi)

Ada dua kursi yang duduk 
di jantung suatu taman 
saling bersitatap melingkar
meja bundar.

Ada satu taman yang lena 
di suatu kota berceruk rendah 
muara dari seluruh kota.

Kursi yang pertama: suatu hari 
diduduki s’orang gadis yang telah 
menyingkap tabir
warna-warni pelangi,
dan kursi kedua yang memandang 
lurus itu, suatu hari pernah di duduki 
s’orang pemuda yang tertenung 
mata gadis berpelangi,
lengkap dengan warna 
merah muda pada pipi
yang runtuh dari kelopak langi itu.

Dua kursi pada taman
Satu taman pada suatu kota
Sebuah kota pada bumi
Melahirkan kisah sengit perempuan
dan laki-laki.

Lalu hilang di lalu-lalang
hingga terusik dua tangis bayi
yang siap menciptakan kisah lagi,
bumi yang indah tidak pernah sempat 
merayakan sepi.
_
6 Syaban 1438 H.

​KESALEHAN INDEPENDEN DAN KECERDASAN KURIKULUM

KESALEHAN INDEPENDEN DAN KECERDASAN KURIKULUM

Saya memiliki keterbatasan jika harus me-review hal-hal yang telah terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu, sebab apa? Saat menulis artikel ini usia saya 21 tahun, maka jelaslah setidaknya dua puluh tahun silam saya masih “kecebong” (kecebong sungai, bukan kecebong istana) dan terus bertransformasi dengan bantuan dari tenaga Yang Maha Ghaib—Yang Maha Indah, sehingga pada hari ini, saya menjadi “kodok” yang bernyanyi setiap kali hujan datang, yang berdoa setiap kali kemarau kelewat batas ketika menduduki tahta langit sehingga terlalu panas dan kering bagi para penduduk bumi.

Supaya sederhana, “kecebong” dan “kodok” saya hilangkan tanda kutipnya, lagipula barangkali pembaca telah curiga dan paham maksud dari tanda kutip tersebut. Menjadi kodok, tentunya lebih menyenangkan daripada selama hidup mengurangi usia hanya menjadi kecebong. Dengan menjadi kodok, saya bisa menyuarakan apa yang selama ini didiamkan, saya bisa menyanyikan apa yang oleh pemilik hujan mesti dinyanyikan, saya bisa ini-itu dan itu-ini di bawah dan berdasarkan hal-hal yang patut—yang kita kenal sebagai pakem kehidupan, yakni: norma-norma universal.

Bagi kecebong agar menjadi kodok, syarat yang pertama adalah harus (semoga) memiliki visa usia dari Tuhan (jatah takdir usia), agar “umurnya’ dapat berkunjung ke setiap usia: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 & 67 dan sekian-sekian, dan yang kedua mereka harus ber-umur atau berjuang (maksudnya: amar, dalam bahasa Arab artinya: berkegiatan/beraktivitas) di dalam usianya. Dua hal di atas adalah syarat, namun memenuhi syarat saja tidaklah cukup, karena ada “rule of the game” aturan dalam suatu permainan.

Banyak faktor yang menentukan perubahan bentuk bagi sang kecebong, walaupun pada dasarnya tidak ada faktor-faktor yang benar-benar absolut yang mampu secara absolut pula mempengaruhi perubahan bentuk sang kecebong. Terkadang beberapa hal dijustifikasi sebagai faktor yang sangat berpengaruh dalam perubahan bentuk justru dijustifikasi setelah kejadian itu selesai, dalam artian dijsutifikasi oleh aspek “akibatnya” bukan aspek “sebabnya”. Sehingga terkadang pula didapati kesimpulan yang tidak silogis dan ditarik si kambing hitam secara suka-suka. 

Misalnya tragedy demo “berjilid-jilid” yang tendensius dicap sebagai tragedy demagog, mobokrasi, kerusuhan, memaksakan kehendak, dan beberapa istilah buruk yang disematkan kepada tragedy tersebut, kemudian diambil kesimpulan bahwa faktor yang menimbulkan tragedy demontrasi berjilid-jilid tersebut adalah umat dan ajaran yang dianut umat tersebut, padahal itu adalah faktor yang ditarik dari aspek “akibat” bukan aspek ‘sebab”. 

Secara sederhananya, jika pada suatu musim kemarau ada hutan yang terbakar, itu bukan disebabkan oleh musim kemarau itu sendiri melainkan pastilah ada setitik percikan api yang dihasilan bukan dari pengaruh dan sumbangsih musim kemarau, jadi kambing hitamnya bukan musim kemarau, melainkan dan seharusnya sepercik api.

Kembali. Faktor lingkungan (ekternal) juga menjadi momok yang potensial mempengaruhi perubahan bentuk kecebong, misalanya semakin dingin air sungai maka semakin tidak mudah beku darahnya atau semakin tebal bagian kulit luarnya. Semakin deras aliran sungai maka semakin besar pula selaput di sela-sela jari kecebong kelak atau semakin ramping dan panjang bentuk kakinya. Semakin keras pilihan makanan maka semakin beragam dan tajam gigi-gigi kecebong kelak atau semakin kuat rahangnya kemudian semakin panjang dan kuat pula kelekatan lidahnya kelak. Seperti itulah gambaran potensial faktor lingkungan terhadap perubahan bentuk sang kecebong. Tentu, itu adalah faktor-faktor yang aplikatif terhadap kecebong sedangkan terhadap manusia dalam artian sungguhan, sudah dapat Anda bayangkan secara analogis bukan, iya ‘kan?

Di samping itu adapula factor yang lebih substansial, yang justru dapat mendestruksi segala aspek dan potensi daripada faktor lingkunngan (ekternal) yakni, norma-norma.  Norma-norma dapat tersusun di dalam kurikulum yang kontruktif dan sistematis, dan hal ini pula yang memberikan pengaruh atau berpotensi mempengaruhi transformasi intelektual sang kecebong saat menjadi kodok kelak. Akan tetapi, antara faktor lingkungan yang bersifat ekstern dengan faktor norma-norma yang bersifat intern, di sinilah terjadi suatu negosiasi metafisikis, sehingga sang kecebong memiliki potensi yang mana dia dapat mengejawantahkan seluruh faktor, atau mengambil salah satu factor sehingga terjadi ketimpangan “being”. Kemudian lahirlah atau lebih tepatnya tercetak kecebong yang manut-manut, ada kecebong yang keras kepala, ada kecebong yang keras dan manut-manut, ada kecebong yang geleng-geleng tapi manut-manut.

Inilah review tragedy hangat yang mumpung: “belum lima menit” (dua puluh tahun). Saat terjadi tragedy demo berjilid-jilid dalam konteks pra dan pasca, ada kesenjangan yang tercipta, entah kesenjangan secara horizontal atau vertical, entah yang mana yang bagian kiri dan kanan, entah siapa yang bagian atas dan bawah pada bangsa Indonesia. Yang jelas, bagi yang merasa kanan yang kiri adalah salah, dan bagi yang bagian kiri yang kanan adalah salah dan sekaligus saling merasa benar. 

Sebagaimana singkapan Hegel mengenai dialektika, bahwa pertentangan itu mutlak, dan perbedaan memang ada, sehingga dalam waktu inkubasi pertentangan akan segera keluar siapa pemenangnya, walaupun tidak ada jaminan yang menang membawa kado kebenaran, akan tetapi yang paling penting dan cukup penting untuk dicatat adalah, di dalam tragedy ini ada dua hal yang tereduksi yakni: kecerdasan dan kesalehan.

Menilai tragedi tersebut, memang cukup rumit dikarenakan hal tersebut merupakan tragedy lintas dimensi: politik dan religi. Kemudian ditambah dengan dua variable yang menjadikannya semakin rumit, yakni: kecerdasan dan kesalehan, sehingga menurut rumus matriks matematis, rentan tercipta 12 varian pola watak kecebong.

Akan tetapi sebenarnya, ada beberapa upaya penyelamatan yang dapat dilakukan oleh diri sendiri ataupun kodok-kodok lain. Yakni dengan memanfaatkan dua faktor di atas, dengan cara kembali kepada posisi equal—penyeimbangan diri demi tercapainya sudut pandang yang seobjektif mungkin dalam menilai suatu tragedy dan meraih kesimpulan yang bagus sehingga memegang kebenaran yang benar dan secara benar. Karena di dalam beberapa kurikulum, kecebong dilatih dan dididik guna dapat menyerang makanan tertentu dan menyalahkan gaya serangan kecebong-kecebong tertentu, sehingga kecerdasannya secara morfologi tidaklah alamiah, yang walaupun pada tataran survive-nya dilakukan secara alamiah.

Di sisilain, kecerdasan independen juga merupakan suatu titik yang langka, yang mana demi memperolehnya memang tidaklah mudah dan harus mau secara gagah menerima kejujuran, keintegritasan walaupun itu pahit bagi diri sendiri. Seekor kecebong, harus berani me-review kesalehannya, harus berani mereview kurikulumnya demi tercapai kecerdasan independen dan kesalehan kurikulum yang memutar balikan seluruhnya dan berpandangan juga berwawasan tinggi dan luas.

_

16 Syawal 1438 H.

PUNGKAS ITU ANAK YANG JAHAT (Serial Curhat)

PROLOG

Ini curhatan tentang ‘kejahatan’ seorang Pungkas yang barangkali banyak menilai saya sebagai orang yang santai-kalem dsj., hanya saja hidup juga merupakan seni bersikap. Dan dalam perilaku ‘jahat’ juga ada seninya. Baik, saya tunjukan dan saya ingin mengajak Anda menjadi orang yang tahu bagaimana berseni dalam perilaku ‘jahat’.

INTRO

Ternyata, episode mudik lebaran belum selesai. Saya memiliki keluarga yang lumayan besar sehingga ada dua babak episode mudik:

1. Yang pertama invansi keluarga JABODETABEK ke Jawa Tengah, dan

2. Yang kedua invansi keluarga Jawa ke JABODETABEK.

(Bagian yang pertama persis seperti kaum Yahudi yang kembali [merebut] ke tanah yang katanya dijanjikan, ya… walaupun orang Jawa JABODETABEK bukan Yahudi benaran, akan tetapi pola urbanismenya hampir sama)

Akhirnya, saya diutus menjadi seorang pemandu wisata bagi Simbah yang mau balas dendam ikutan Mudik ke Jakarta sehingga kami memutuskan berangkat pagi agar sempat menyambangi dua kota yakni: Depok Universitas Indonesia dan Kota Bekasi.

Barang bawaan kami tidak banyak, hanya enam buah dodol yang satu kemasannya lebih dari satu kilogram, maka saya memutuskan tidak membawa tas (yang berisikan segala keperluan duniawi: power bank, buku-buku, sisir, recehan, bedak, dan kopiah) agar tidak riweh lagipula oleh-oleh kamipun sudah cukup memberatkan, alhasil hanya membawa Samsuuung dan dompet.

Selama perjalanan, saya tahu, Samsuuung dan dompet saya lowbet, sehingga terasa ngeri kalau-kalau batre dan isi dompet benar-benar habis saya bisa mati duniawi saat itu juga. Tetapi alhamdulillah, dua Kota telah tunai kami singgahi dan Simbah tidak ikut pulang, beliau menginap di Bekasi.

Jam 22:30 di stasiun Lenteng Agung daerah Jakarta Selatan dan sisa batrai Samsuuung 2% dengan tujuan Stasiun Bogor yang akan ditempuh dalam waktu 50 menit lebih. Lalu pulang menuju mess kantor di bilangan Warung Jambu Kota Bogor. Mess saya ruko tiga tingkat pada bagian paling atas saya dapat kamar dengan satu teman di sana.

Saya menyusun rencana: mau pesan greb bike, lalu nge-WE’A teman saya agar dia jangan tidur hingga saya pulang jam 23:30 sebab saya tidak bawa kunci garasi dan kunci pintu kantor. Dan rencana saya gagal, Samsuuung saya mati total. Tetapi setidaknya, Alhamdulillah, saya masih dapat rider greb bike untuk mengantar sampai kantor di malam yang sepi dan angkutan umum yang sudah jarang pada saat itu.

REFFRAIN (Bagian jahatnya)

Sesampainya di kantor yang tertutup, sedangkan saya ingin masuk maka saya membuat siasat: ke warnet sambil ngecharge Samsuuung buat telpon teman saya dan semoga dia belum tidur.

DI WARNET

S= saya
O= operator warnet laki-laki
O: Iya-iya, gue tahu… lo emang cewek ₩€%£%€%. Di depan Anton lo jelek-jelekin gue, dan di depan gue lo jelek-jelekin Anton, gue udah tau tabiat lo dari si Jawer gue udah tau lo dasar /#^!*@8#&^$.

Operator sedang ribut dengan ‘mantan pacarnya’ di telepon via suara, saat itu saya mau pesan bilink komputer satu unit. Namun melihat kondisinya saya perlu beradaptasi sejenak, dan dengan inisiatif saya masuk kedalam barang kali komputernya dapat dimainkan langsung tanpa repot-repot bantuan operator yang lagi marah-marah, tetapi ternyata tidak bisa. Akhirnya dengan arif saya membutuhkan pertolongan sang operator, sambil minta kabel USB buat nge-charge.

S: Bang maaf tolong aktivin bilink 17 sama pinjam kabel USB sebentar.

Pinta saya sesantun mungkin, demi menjaga mood-nya.

O: Kaga ada!!!

Ucapannya cukup keras ketika menjawab pertanyaan saya, sembari bersitegang dengan mantan pacarnya di telpon via suara. Saya merasa seperti kalah 1-0.

S: ok-ok.

Saya balik ke bilink 17. Menatapi layar komputer yang bergambar game online kartun perempuan dengan pose dan bentuk tubuh yang menggairahkan. Selama 5 menit saya menatapi layar yang stabil, ini tandanya operator belum merespon permintaan saya, sedangkan waktu mulai larut jika teman saya tidur maka malam itu saya akan ditakdirkan tidur di emperan kantor. Namun masih ada kesempatan mengirim pesan via mesengger Fesebook lewat Mozila Firefox, sebab tidak ada USB maka tidak Samsuuung tidak dapat di-charge.

S: Bang, bilink 17.

Saya mengacungkan telunjuk dari jarak 4 meter, dengan suara lembut juga santai, dan dia menatap saya dengan tatapan ibu tiri. Akan tetapi selama 3 menit setelah permintaan, sang operator masih belum juga merespon, saya kalah 2-0. Waktu semakin sempit, takdir saya tidur di emperan kantor semakin besar. Lalu saya meminta sekali lagi, dengan suara lembut seperti kembang gula yang lembut dan manis–jam 23:30.

S: Bang, maaf. Bilink 17.

O: Apa si??? Berapa jam???

Nadanya cukup keras, dalam hati saya menimbang-nimbang sebab kali ini telak sekali, saya kebantai 3-0. Jika ini pembantaian dalam sepak bola maka perlu tenaga super kuat untuk membalikan keadaan agar menjadi 3-4.

S: Satu Jam, Bang.

Ucap saya selembut dan semanis kembang gula. Akhirnya 23:32 komputer bisa digunakan dan saya langsung mengakses Facebook untuk mengirim pesan “Boy… tolong bukain pintu saya ada di bawah kantor, tolong buka ya?!” Pesan itu saya kirim 4 kali agar kotak masuk Mesengger-nya terdengar heboh. Dan Alhamdulillah, si Boy fast respond, dengan jawaban: Ok Pung.

23:35 saya selesai, dalam artian dari paket internet 1 jam saya hanya menggunakannya 3 menit, masih ada 57 menit lagi. Tetapi bilink saya biarkan hidup dan pergi keluar menuju operator untuk ke kantor.

Ketika melangkah menuju operator, saya menimbang-nimbang sikap tidak profesional sang operator mulai dari: tutur kata, nada bicara, standar pelayanan, etika ketimuran, raut wajah, bahasa sopan-santun. Yang sebanyak itu saya tidak menerima satupun–saya kalah 3-0. 

Di sisi lain, Sang operator membutuhkan suatu pelajaran kejahatan etika, bagi saya mudah sekali untuk membalas sebab ini demi kebaikan sang operato jika melak ketika berhadapan dengan oranglain, sebab saya masih mentoleransi sikap dan perilaku bahasanya akan tetapi masih banyak oranglain yang tidak seperti seorang Pungkas, yang barangkali jika sang operator bersikap sehancur itu maka oranglain akan langsung menghajar secara fisik habis-habisan. Namun saya ingin berseni dalam kejahatan. Itu cara yang saya pilih.

S: Bang, maaf. Bilink 17 jadi berapa?

O: Tiga ribu.

Jawabnya ketus. Saya membuka dompet, mengambil selembar uang yang masih bagus-gus-gus-gus. Bilink saya biarkan hidup, hanya terpakai 3 menit.

S: kembaliannya diambil aja Bang.

Lalu saya pergi sambil tersenyum manis untuk sang operator.

Skor akhir: 3-4 (saya menang, saya bayar dengan mahal sikap dan profesionalismenya yang hancur).

PENUTUP

Saya ingat kata-kata Mario Teguh: anak muda boleh marah tetapi harus dengan cara yang elegan. Semoga kejahatan saya jadi pelajaran untuk kita semua.

_

12 Syawal 1438 H.

DI HADAPANMU (Serial Prosa puitik)

dari akun Instagram: catatan_sederhana

1-
Ketika di hadapanmu aku tidak tinggal 
diam, ada beberapa hal yang harus selalu
beres dan terlihat dalam keadaan rapi,
misalnya merapikan bulu matamu yang 
rontok ketika hembusan angin bersinggungan
dengan wajahmu dan alismu yang membendung
laju keringat, sehingga pada bagian atas
matamu terlihat seperti pesisir laut, 
sedangkan matamu tentu saja sebagai
mataharinya yang segera tenggelam.
2-
Sewaktu aku kecil ada suatu kepercayaan:
jika bulu mata ada yang rontok runtuh
-runtuh tandanya ada yang merindukanmu.
Namun, bulu matamu yang rontok itu jangan
kautanya, tentu saja itu akibta ulah rinduku. 
Tetapi tenang saja, rinduku tidak akan merontokkan 
semua bulu matamu.
3-
Aku gemar berlama-lama duduk di
-hadapanmu sembari menatap matamu
yang indah, karena aku dapat melihat
dan seakan-akan masuk kedalam dirimu,
mencari tahu dan mengumpulkan sebanyak
-banyaknya informasi yang ada di dalam 
dirimu segala perihal tentangku–tentang 
cintamu kepadaku, dan aku juga sangat
gemar berlama-lama menatap matamu 
yang indah, karena sesekali aku dapat 
melihat senyum wajahku yang tercermin 
pada matamu.
4-
“Mohon, jangan bicara. Tunggu sebentar… aku belum selesai!”
_
8 Syawal 1438 H.

MENARILAH DENGANKU (Antologi Puisi: Merah Marah Manis)

​MENARILAH DENGANKU

kaupernah mendengar kecapi?
yang senar-senarnya bertasbih
yang sufi-sufinya bergoyang
seperti api lilin diretas angin

aku melihat rembulan mengambil 
tempat di sudut matamu lalu beristirahat 
di sana, ada samar-samar ombak dan airmata 
seperti berlian yang matang oleh tekanan rindu 
dan cinta yang telah ribuan kali musnah 
dalam ribuan kasta
ribuan kasta

__

6 Syawal 1438 H.

JEJAK (Antologi Puisi: Merah Marah Manis)

JEJAK

Di belakang, jejak tersapu lembut ombak
Juga menjilati butir-butir pasir pada telapak kaki.
Sebagaimana semula, kakimu dan kakiku
sebersih bayi merah yang lahir pagi tadi.

Namun, kita tak perlu menangis
tentang jejak-jejak yang hilang.
Mataku adalah pintu sebuah ruang hati,
dimana jejak-jejak kusimpan teramat rapi.

Tataplah aku, ketuk hatiku!
Dan aku memiliki satu: kau.
Engkau yang sudah kupersilakan
masuk sebelum kau mengetuk pintu.

Tataplah, tantang mataku!
Jangan berkedip walau angin laut menerpa.
Biar nyiur bergoyang; matamu
teguh menatap hatiku
yang memberimu teduh.

Tak lain hanya wajahmu berjejak disana.
Terus berjejak merasuk hatiku. 
Menuju sunyi menanti mati.
_________
17 Juli 2016. @Megamendung.

​SANSEVEIRA DAN LIDAH MERTUA SEBAGAI REALITA EUFEMISME PEREMPUAN DAN AKHWAT

SANSEVEIRA DAN LIDAH MERTUA SEBAGAI REALITA EUFEMISME PEREMPUAN DAN AKHWAT


Sumber: 1.bp.blogspot.com

“Setiap akhwat pasti perempuan tetapi tidak semua perempuan adalah akhwat.”

Saya akan menjawab seperti itu, jika ada yang bertanya: apa perbedaan definitif antara akhwat dengan perempuan?

Akhir-akhir ini saya melihat suatu realitas di masyarakat Indonesia terkhusus di kaula muda. Bahwa, gejala-gejala yang dialami oleh bahasa ternyata bersinkron dengan kehidupan manusia, sebab jelaslah, manusia tidak dapat dan bahasapun tidak dapat saling berlepasan sebab mereka satu kesatuan yang sangat inheren. Dengan katalain, apabila terjadi suatu perubahan di dalam bahasa maka hal ini didasari oleh perubahan sosial pada suatu masyarakat.

Gejala Eufemisme, di dalam kesusastraan bahasa Indonesia dikenal sebagai perhalusan makna/perhalusan kata dari yang sebelumnya. Gejala eufemisme sangat bertumpu kepada suatu kata yang diberi makna baru, hal ini tentu dapat kita lihat dari beberapa dekade lalu istilah ‘buruh‘ dipergunakan untuk mengkategorikan seluruh manusia yang berkerja: petani, pekerja lepas, pekerja kantoran dst. akan tetapi karena makna buruh pada dasarnya terlalu kasar dan sangat sempit, terlebih secara diakronis makna buruh mengingatkan masyarakat Indonesia kepada zaman pra-kemerdekaan yakni perbudakan, kerja paksa ataupun tanam paksa. Maka dari itu, ada suatu gagasan baru yang mana akan lebih indah apabila dipergunakan istilah baru untuk memaknai peristiwa kepekerjaan, sehingga pada saat ini istilah ‘buruh’ secara formal sudah tidak digunakan lagi dan diganti dengan istilah ‘tenaga kerja’–inilah suatu peristiwa bahasa mengenai eufemisme.

Akhwat adalah sebuah istilah yang di Indonesia sendiri menjadi tren panggilan untuk sosok perempuan yang digambarkan berpakaian tertutup dan arif. Menggunakan tudung kepala yang panjangnya sampai di bawah dada atau perut, ditambah memakai bawahan terusan dari pinggang bagian atas hingga di bawah mata kaki ditambah kaus kaki–ini adalah akhwat.

Sedangkan. Perempuan adalah salah satu jenis manusia yang dapat melahirkan, menyusui, mengandung anak–setidaknya itulah definisi perempuan. Maka dari dua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa akhwat mengandung unsur kepermpuanan yang jauh lebih kompleks artinya, sedangkan dengan perempuan sendiri unsur dan pengertiannya tidak sekompleks akhwat. Tentu saja ini penelaahan dari aspek bahasa, tetapi perlu diingat sebab secara empirispun (dunia nyata) benar adanya bahwa, akhwat sudah pasti seorang perempuan sedangkan perempuan belum tentu seorang akhwat.Begitupun waria, waria sudah pasti seorang lelaki, tetapi seorang lelaki belum tentu seorang waria.

Pada saat muncul suatu peristiwa baru yang berbeda dari kebiasaannya, masyarakat cenderung mencari istilah baru untuk menamai peristiwa tersebut. Hal ini terbukti oleh peristiwa perempuan dan akhwat dewasa ini. Akwat-isme menjadi tren perilaku baru belakangan ini, walau peristiwa akhwat-isme telah ada sejak zaman kenabian; sedangkan di Indonesia peristiwa laten ini baru menghangat kembali dari hibernasinya yang karena kurang tersosialisasikan.

Saya gambarkan sedikit mengenai perbandingan di antara keduanya. Contoh: di halte bus terdapat 2 perempuan yang berpakaian ala akhwat-isme dari jumalah keselurihan 20 perempuan yang beragam cara berpakaiannya, maka yang 2 perempuan berpakaian ala akhwat-isme tersebut pasti dapat tergolong ke dalam “rumpun perempuan” sedangkan 18 perempuan tersebut belum tentu tergolong ke dalam “rumpun akhwat”.

Dari aspek bahasa eufimisme merupakan gejala bahasa yang berubah atas suatu kata menjadi kata yang jauh lebih baik artinya, maka menurut gejala bahasa eufimisme: akhwat memiliki arti lebih halus dari pada perempuan; seperti halnya istri daripada bini. Dalam perspektif Syari’ah Islam, akhwat-isme merupakan seideal-idealnya perempuan yang dicita-citakan oleh agama Islam itu sendiri, maka secara langsung akhwat merupakan manifestasi tertinggi dari keperempuanan itu sendiri. Tetapi akhwat-isme tidak hanya cukup sebatas dalam hal berpakaian saja tetapi juga dengan akhlak/moral yang baik sebagai fundamennya.

Lalu apa korelasinya dengan judul Anda: sanseviera? Sanseviera, nama yang indah secara vokal cukup unik dan berkesan sebagai kata yang artistik. Sanseviera sendiri merupakan sejenis tanaman kembang yang berbentuk pipih selebar empat jari orang dewasa dengan panjang bisa mencapai 45 cm. lebih.

Sumber: gardens4you.co.uk/ShopImages/product/FD16809WH.JPG

Seperti akhwat dan perempuan yang mengalami peristiwa sufemisme, Sanseviera mengalami hal yang sama, kembang ini dikenal dengan nama Sanseviera akan tetapi di masyarakat Indonesia kembang ini dikenal dengan nama: Lidah Mertua. Menagap demikian, padahal dan bukankah untuk kembang secantik ini terlalu naas jika diberi nama: Lidah Mertua? Maka dari itulah, sebenarnya untuk menyebut atau menamai sesuatu yang indah seharusnya juga dengan nama yang pantas dan menyeimbangkan. Kemudian, memiliki nama/istilah yang baguspun tidak cukup melainkan harus diimbangi dengan substansi/esensi/makna/sifat yang bagus.

__

Ditulis oleh: Pungkas Yudha Susena

15 Syaban 1438 H.

​SECARIK OBROLAN TENTANG PUISI AKROSTIK

SECARIK OBROLAN TENTANG PUISI AKROSTIK

Dewasa ini, dikenal banyak jenis-jenis puisi salah satunya yang akan saya bahas secara singkat adalah puisi akrostik. Ciri khas dari jenis puisi ini adalah huruf-huruf awal pada setiap barisnya, yang jika diakumulasikan secara vertikal maka akan diketemukan suatu kata, dapat berupa: nama, kata benda, kata sifat, suatu peristiwa maupun, kata atas simbol-simbol tertentu.

Para penulis puisi jenis ini, biasanya tidak melepaskan konteks atau tema puisi dari huruf bentukan (kata dasarnya) hal inilah yang menjadikan puisi akrostik memiliki daya tarik tersendiri, terlebih dengan adanya “kata dasar” para pembaca menjadi tidak kesulitan menafsirkan, mengartikan maupun menarik suatu kesimpulan atas puisi tersebut. 

Berbeda halnya dengan jenis puisi lain yang dalam beberapa kondisi makna dari puisinya sulit dipahami, walaupun terkadang maknya sudah dapat digambarkan melalui judul puisinya, akan tetapi puisi kontemporer cukup sering ada yang sulit untuk dipahami maknanya.

Kebiasaan masyarakat Eropa pada masa ini, (silakan lihat di klub puisi internasional pada apps Wattpad) menggunakan puisi akrostik sebagai budaya seni tulisan (lisan juga tercakup) yang tidak terlalu serius, biasanya dikategorikan pula puisi akrostik sebagai “bermain-main kata” persis seperti penggunaan pantun sebagai budaya seni berlisan di Indonesia. 

Maka, atas dasar kebiasaan inilah timbul suatu kesan lain terhadap karya-karya puisi berbentuk akrostik yang diparadigmakan sebagai “puisi main-main”/”puisi gak serius”/”ini bukan puisi sebagaimana hakikatnya” sehingga tidak jarang akibat paradigma tersebut, makna di dalam puisi akrostik ikut terreduksi menjadi buruk oleh masyarakat (dipandang negatif).

Mungkin ada pertanyaan, apabila puisi akrostik yang diparadigmakan sebagai “puisi main-main kata” apakah layak dikategorikan sebagai puisi pada hakikatnya? Maka, untuk menjawab hal ini mari kita kembalikan kepada konvensi perpuisian, Sapardi D. D. 2016 dalam buku apresiasi puisi tulisannya yang berjudul: “bilang begini maksudnya begitu” mengatakan–apabila ada suatu karangan yang oleh penulisanya dinyatakan sebagai puisi maka masyarakat sebagai pembaca harus meng-aamiin-kan (membenarkan) bahwa karangan tersebut adalah sebuah puisi (baca halaman 8). 

Maka, terjawab sudah mengenai puisi akrostik tentang keduduakannya sebagai salah satu jenis puisi dari sekian banyaknya jenis puisi yang dikenal secara umum. Apabila di suatu kesempatan ‘kita’ sebagai pembaca menemukan puisi akrostik maka kita sebaiknya mengangapnya demikian, dengan katalain bahwa puisi akrostik tetaplah sebuah puisi sebagaimana hakikatnya puisi, terlepas dari paradigma dan penggunaannya.

Kembali ke-point kedua, bahwa puisi akrostik adalah bermain-main kata, maka tentu saja boleh diubah sedikit konseptualnya bahwa puisi akrostik adalah puisi yang bersenang-senang dengan kata. Mengapa demikian? Hal ini karena, berpuisi juga merupakan hak bagi suatu masyarakat yang terlepas dari pangkat, profesi dan keahlian–berpuisi adalah hak masyarakat; bukan hanya hak penyair ataupun pemuisi dan sejenis penulisa lainnya. 

Maka, dengan konsep “bersenang-senang dengan kata” tentu ada kaidah tertentu yang saling mengikat antara pemuisi dengan puisi itu sendiri, atau dengan hematnya bahwa antara penulis puisi dengan puisi mesti seperti kerbau dan burung jalak yang saling menguntungkan dan menghargai. Sehingga, tidak ada salahnya bagi para pembelajar puisi mencoba salah satu jenis puisi ini, terlebih dengan konseptual yang sederhana menjadikan para pembelajar dan para penulis puisi tidak terlalu bingung dan merasa rumit dengan unsur-unsur non-puisi yakini: filsafat di dalam puisi kontemporer ini.

Di bawah ini, merupakan salah satu contoh dari puisi jenis akrostik:

NANYAIN ANGIN DAN OMBAK

Gelap merayap pada punggung gunung
Ikan-ikan di laut terbenam dalam sepi
Tono menatap luas samudera yang tenung
Ayah berlayar; ibu dan adik di rumah menanti

Oleh: Pungkas Yudha Susena

Perhatikan huruf awal di setiap barisnya, jika dikumpulkan secara vertikal maka akan didapati kata “GITA” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘gita’ bermakna: senandung, nanyian, himne, tembang dst. maka di dalam puisi tersebut sedang menawarkan suatu nuansa laut pada sore hari, yang mana laut menjadi pasang disusul denga ombak yang semakin nakal bergelombang, tetapi di sana ternyata ada seorang anak lelaki yang menanti kepulangan ayahnya yang sedang berlayar menangkap ikan. 

Hm… suasana laut yang indah dan naturalis dengan seorang anak yang tabah dan menyayangi ayahnya. Sekian, semoga artikel ini menambah wawasan dan membuka pikiran kita. 

Akhirul kalam, Assalamualika, salam semangat.

___

Ditulis oleh: Pungkas Yudha Susena, 23 Ramadhan 1438 H.